Anies Baswedan Kunjungi Indonesisch Nederlandsche School di Padang Pariaman

Politik1,082 Views

Katajari.com Bakal Calon Presiden dari Partai Nasdem, Anies Baswedan mengunjungi sekolah Indonesisch Nederlandsche School (INS) yang berada di Kayutaman, Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), Sabtu (3/12/2022).

Sekolah bersejarah yang telah mencetak tokoh-tokoh hebat dari ranah minang itu menjadi kunjungan pertama Anies ketika landing di Bandara Internasional Minangkabau (BIM).

Ketua DPW NasDem Sumbar Fadly Amran mengaku bersyukur karena Anies menyempatkan diri singgah ke salah satu sekolah yang menjadi kebanggakan Sumbar.

“Tentu kita bangga. Seorang Anies tertarik untuk singgah ke sekolah bersejarah ini yang berhasil mencetak tokoh besar di Sumbar,” katanya.

“Kita selalu mendoakan agar beliau Anies selalu diberi kesehatan. Sehingga jika terpilih menjadi presiden nantinya, ia ingat tempat sejarah ini,” katanya lagi.

Kemudian Fadly sangat berbangga diri karena Anies bisa menyempatkan diri datang ke ranah minang disela-sela kepadatan kegiatannya. Apalagi Anies adalah Capres pertama yang mendatangi Sumbar.

“Kita dengan senang hari menyambut beliau dan sama-sama kita saksikan betapa tumpah ruahnya masyarakat menyambutnya. Ditambah lagi beliau adalah Capres pertama yang telah menjejaki Sumbar,” tutupnya.

Diketahui, INS merupakan lembaga pendidikan terhadap reaksi spontan corak pendidikan Barat dimasanya. Lembaga ini didirikan oleh Muhammad Sjafei pada 31 Oktober 1926 yang berlokasi Kayutaman, Kabupaten Padang Pariaman.

Dalam beroperasi, biaya operasional ISN ini diperoleh dari hasil penjualan dari berbagai kerajinan siswa dan kreativitas lainnya tanpa subsidi dari pihak mana pun, termasuk dari pemerintah Belanda saat itu.

Tahun 1941 ketika pecah Perang Dunia II, INS Kayutaman diduduki secara paksa oleh Belanda sehingga proses pembelajaran terhenti.

Setelah Jepang menang, tahun 1942 INS berubah terjemahannya menjadi Indonesche Nippon School Di zaman ini pembelajaran merosot karena kesulitan memperoleh alat-alat pelajaran.

Setelah Jepang menang, tahun 1942 INS berubah terjemahannya menjadi Indonesche Nippon School. Di zaman ini pembelajaran merosot karena kesulitan memperoleh alat-alat pelajaran yang pada akhirnya INS ditutup.

Selanjutnya, pemerintah mendirikan Sekolah Guru Bantu (SGB). Dalam perkembangan, INS Kayutaman memiliki tujuan yang sejalan dengan Undang-Undang Pendidikan Nomor 20, Tahun 2003, Pasal 26 yang menyatakan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban menciptakan pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis.

Beberapa sastrawan Indonesia tercatat sebagai alumnus INS Kayutanam adalah A.A. Navis yang terkenal dengan cerpennya “Robohnya Surau Kami” (1956), Chairul Harun penulis novel Warisan (1976), dan Wisran Hadi penulis drama modern tahun 70-an yang banyak menggali tradisi Minangkabau. (suarasumbar.id)

Tinggalkan Balasan