Banjar  

Pemberdayaan Ekonomi Warga Desa Lok Baintan Melalui Pemanfaatan Eceng Gondok

Warga Desa Lok Baintan pengolahan eceng gondok menjadi kerajinan tangan. (Foto: DKISP Kabupaten Banjar/katajari.com)

Katajari.com Desa Lok Baintan yang terletak di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar telah mengukir prestasi baru dalam upaya pemberdayaan ekonomi masyarakatnya melalui pengolahan eceng gondok menjadi kerajinan tangan.

Langkah ini tidak hanya menjadi inovasi lokal, tetapi juga sebagai hasil kolaborasi antara pemerintah daerah dan komunitas perempuan, yang mendapat dukungan penuh dari Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Banjar.

Usaha ini menandai kesinambungan dari workshop perempuan yang diadakan beberapa bulan lalu, Ketua TP PKK Kabupaten Banjar, Hj Nurgitas Tiyas, M.Pd, turut hadir dalam workshop tersebut.

Gita memberikan inspirasi dan motivasi kepada para peserta, terutama para ibu rumah tangga, untuk mencari solusi kreatif dalam menghadapi tantangan ekonomi di tingkat lokal.

Melalui workshop tersebut gagasan untuk memanfaatkan eceng gondok sebagai bahan baku untuk kerajinan tangan muncul.

“Kami sadar akan potensi besar yang dimiliki oleh eceng gondok, dan kami percaya bahwa dengan sentuhan kreativitas, bahan ini dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi,” ujar Nurgita Tiyas.

Dukungan dari Ketua TP PKK Kabupaten Banjar bukan hanya dalam bentuk motivasi, tetapi juga bantuan teknis dan logistik untuk melaksanakan program workshop ini melalui Bidang PPPA Dinas Sosial P3AP2KB.

“Kami memfasilitasi pemberdayaan perempuan melalui kegiatan workshop perempuan yang menghadirkan para narasumber dan instruktur yang berkompeten dalam pembuatan kerajinan tangan berbahan baku eceng gondok,” ujar Nurgita.

Hasilnya, Desa Lok Baintan kini menjadi contoh dalam transformasi ekonomi melalui kreativitas perempuan. Berbagai produk kerajinan tangan, mulai dari tas, hiasan dinding, hingga aksesori fashion, kini mulai dipasarkan.

Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan perempuan di desa tersebut, tetapi juga memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal secara keseluruhan.

“Kami bangga dapat berkontribusi dalam pembangunan ekonomi desa kami melalui kerajinan tangan dari eceng gondok ini,” tutur salah satu peserta workshop yang telah mempraktikkan hasil workshop perempuan.

“Terima kasih kepada Ibu Ketua TP PKK Kabupaten Banjar atas dorongan dan dukungannya.” tambahnya.

Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas perempuan dan masyarakat desa, upaya pemberdayaan ekonomi seperti ini diharapkan dapat terus berkembang.

Desa Lok Baintan merupakan salah satu Desa di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan.

Desa Lok Baintan terkenal dengan jembatan gantungnya yang khas, yang mana jembatan ini juga merupakan salah satu ikon wisata di daerah tersebut.

Sungai Tabuk sendiri merupakan salah satu sungai yang melintasi daerah Kabupaten Banjar dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat sekitar, baik untuk transportasi maupun kegiatan ekonomi lainnya.

Desa Lok Baintan ini memiliki kondisi geografis dengan perairan yang luas dan panjang, sehingga banyak warga menjadikan sungai di desa ini sebagai lalu lintas utama untuk beraktivitas sehari-hari.

Namun sayangnya, terdapat permasalahan yang seringkali terjadi di sungai ini yaitu banyaknya eceng gondok yang tumbuh di sungai sehingga menghambat navigasi di sungai, terutama bagi perahu atau kapal kecil yang digunakan oleh masyarakat desa untuk transportasi sehari-hari.

Selain itu pertumbuhan eceng gondok yang berlebihan juga merusak keindahan sungai dan mengurangi daya tarik wisata dan pemandangan alam yang seharusnya menjadi potensi ekonomi bagi Desa Lok Baintan. Lok Baintan sendiri merupakan desa wisata dengan pasar terapung yang juga mendunia.

Tidak hanya itu eceng gondok yang menumpuk di sungai juga memperburuk masalah banjir dan genangan air di musim hujan.

Tanaman ini dapat menjadi penyebab utama penumpukan sampah dan material organik lainnya di sungai. Dan masalah penting lainnya ialah terkait dengan Kesehatan masyarakat.

Lingkungan yang tercemar akibat pertumbuhan eceng gondok yang berlebihan dapat menyebabkan masalah kesehatan bagi masyarakat desa, seperti penyakit kulit atau infeksi saluran pernapasan akibat polusi udara dan air.

Eceng gondok merupakan gulma yang tumbuh di wilayah perairan yang hidup terapung pada air yang dalam atau mengembangkan perakaran di dalam lumpur pada air yang dangkal.

Tanaman ini telah menyebar ke seluruh perairan yang ada, baik waduk, rawa, maupun sungai di Kalimantan, tidak terkecuali Desa Lok Baintan.

Kesadaran masyarakat akan pengelolaan sumber daya alam khususnya eceng gondok merupakan hal yang sangat penting dan mendesak.

Ketua TP PKK Kabupaten Banjar motivasi, bantuan teknis dan logistik untuk melaksanakan program workshop ini melalui Bidang PPPA Dinas Sosial P3AP2KB. (Foto: DKISP Kabupaten Banjar/katajari.com)

Eceng gondok merupakan gangguan serius terutama ketika tumbuhan tersebut menumpuk di lokasi tertentu dan memakan hampir separuh sungai.

Bahkan beberapa kali tumpukkan eceng gondok ini juga akan tersangkut pada jembatan-jembatan besar. Sehingga berdasarkan permasalahan-permasalahan tersebut perlu adanya tindak lanjut yang tegas atas masalah ini salah satunya dengan menjadikan keberadaan eceng gondok yang bermasalah ini menjadi sebuah peluang.

Maka dari itu dapat dikatakan, walaupun eceng gondok seringkali menjadi masalah, namun dengan pemanfaatan yang tepat, eceng gondok dapat berubah menjadi sebuah peluang yang bernilai.

Salah satu cara mengubah masalah ini menjadi sebuah peluang ialah dengan pemberdayaan komunitas desa melalui pengelolaan sumber daya alam eceng gondok menjadi sebuah industri kerajinan.

Eceng gondok dapat dijadikan sebagai bahan baku untuk berbagai produk kerajinan seperti anyaman, tas, dompet, kotak tisu, sendal, souvenir, dan juga berbagai barang fungsional seperti meja dan kursi.

Eceng gondok juga bisa dijadikan kertas untuk membuat amplop, kartu nama, paper bag dan lain sebagainya yang menghasilkan nilai estetika dan fungsi.

Dengan mendorong pengembangan kerajinan tangan atau produk-produk kreatif dari eceng gondok, selain mengurangi jumlah eceng gondok di perairan, tetapi juga menciptakan sumber penghasilan baru bagi warga desa. (kjc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *